..:: Ranie ::..

Thursday, February 23, 2006

DAMAI UNTUK QONI

Sore kemaren sebelum saya pulang dari kantor, saya menyempatkan membuka mail account yang beberapa hari ini belum sempat terbuka. Di dalam mail account saya ada sebuah mail dari seseorang yang bernama Qonita Zahrah Irawan, nama yang bagus. Qonita ini biasa dipanggil qoni adalah seorang putri dari salah seorang teman saya. Dia duduk di bangku kelas 6 SD di daerah Jombang Jawa Timur. Mail yang dikirimkannya sangat sederhana, tetapi ada satu yang membuat saya sedikit berpikir. Qoni meminta saya untuk membuat puisi tentang perdamaian dalam bahasa Inggris.

Waduh, permintaan yang agak berat. Pertama saya tidakbiasa membuat puisi dalam bentuk permintaan baik untuk yang gratis atau bayaran. Karena berpuisi dan menulis datangnya dari lubuk hati yang terdalam dan bukan karena paksaan atau permintaan. Yang kedua tema tentang perdamaian yang membuat saya bertanya, mengapaQoni kecil mengusung tema seperti ini.

Qoni sayang, saya sendiri bingung memaknai tentang damai. Walau secara garis besar saya tahu bahwa damai itu identik dengan ketenangan, tetapi untuk membuat puisi tentang perdamaian, saya perlu merenunginya lebih dalam lagi.

Qoni sayang, damai juga identik dengan tidak terganggunya hidup kita dengan segala kesulitan,penderitaan dan segala sesuatu yang menghilangkan ketenangan batin. Tapi jika melihat kondisi Qoni kecil, maka damai yang cocok bagi Qoni adalah ketikaIbu, bapak, Rafif dan Faiz bisa berkumpul bersama.

Iya, Qoni kecil hidup terpisah dari Ibunya, entahlah karena sesuatu hal yang belum Qoni mengerti kedua orang tuanya harus berpisah selama 1 tahun. Mereka belum bercerai tapi hanya tidak serumah. Qoni kecil tentunya sangat sedih dan hal ini membuat kedamaian di dalam kehidupannya terusik.

Iya, saya hanya mengatakan sabar jika bertemu dengannya suatu hari nanti. Bahwa atas izin Allah semua ini terjadi dan tentunya semua ada hikmahnya.Dan yang paling mengharukan kini Qoni kecil telahbelajar shalat tahajjud bersama sang bapak. Dan saya yakin ketika pertiga malam Qoni terbangun untuk berdialog dengan Allah, maka yang di pintanya adalah bahwa Ibu dan ayahnya serta adik-adiknya bisa bersama lagi dengan Qoni suatu saat nanti. Semoga?.
posted by Maharani Arief at 1:51 AM 0 comments

Friday, February 17, 2006

ehmmm



My Journey, 14 Pebruari 2006

Sore itu aku pergi ke Bandung setelah pulang dari kerja. Alhamdulillah, dalam perjalanan aku tidak menemukan hambatan yang berarti. Aku ke Bandung membawa segudang rindu dan hasrat,sejuta bintang-bintang cinta yang berkelap-kelip dilangit hatiku. Aku hendak menemui kekasih hatiku, menumpahkan segala keperempuananku sebagai istri dan wanita. Jantungku berdebar-debar.

Sesampainya di terminal leuwipanjang segera aku bergegas mencari angkot 05, karena kami berjanji bertemu di prapatan Jakarta. Alhamdulillah, lagi-lagi aku tidak dibuat jengkel oleh angkot 05 karena biasanya angkot ini sering ngebut dan ngetem. Lancar.

Sesampainya aku di prapatan Jakarta. Ketika aku menginjakkan kakiku di jalanan aspal itu. Aku melihat sosok bermata sipit dan berkumis tipis. Dia berjalanke arahku. Ah dia, kekasihku sudah datang menjemput.Sumringah hatiku. Tapi aku heran biasanya dia membawa kendaraan kali ini tidak, katanya mogok dan sedang diperbaiki. Dan dia memintaku untuk berjalan kaki menuju pangkalan angkot yang akan membawa kami ke rumah.

Berjalan kaki????
Iya, kami berjalan kaki berdua, bergandengan tangan. Sudah lama rasanya. Berapa tahun ya? Kita tidak seperti ini lagi. Berjalan kaki berdua sambil bergandengan tangan menyusuri jalanan dalam keramaian malam. Dia memegang tanganku erat, hangat. Seperti dulu saat pertama kita menyandang predikat pengantin baru. Aku menatapnya rindu, sambil tersenyum aku memanggilnya. Dia melirik ke arah ku. Ku katakan aku kangen..
Lalu aku berkata padanya bahwa kita sudah lama tidak melakukan hal ini.

Sederhana tapi sangat menghangatkan relung-relung hatiku.
Aku menggelayut manja di tangannya yang kokoh itu.
Hangat..
Aku tahu kau pun merasakan kehangatan itu, tapi pekerjaan dan setumpuk pikiran tentang kewajiban sedikit menghalangi kita.

Mas, waktu memang tidak akrab dengan kau dan aku.
Tapi aku ingin menyimpan semua yang indah tentang kita dalam lembaran-lembaran hariku ketika tidak bersamamu.Seperti malam itu, aku ingin menyimpannya dalam sketsa tentang kau dan aku.

I miss you, mas


(untuk yang lain maaf ya jangan cemburu ;P)
posted by Maharani Arief at 3:11 AM 2 comments

Thursday, February 16, 2006

CinNta Dari Azzam


Beberapa hari yang lalu, badan ini terasa pegal semua, punggung terasa panas, kepala berdenyut-denyut. Capek sekali. Belum azzam yang tetap lincah dan meminta perhatian saya. Ah lelah sekali.

Lalu saya berbaring, dan mencoba memejamkan mata. Lalu azzam duduk disamping saya. Sambil menatap saya dia bertanya ada apa dengan saya. Lalu saya menjawab kalau saya capek dan pusing. Dengan nada polosnya dia berkata " Ummi capek ya".

"Azzam mau pijitin ummi ga?"
" He eh"
lalu dia memijat kaki saya beberapa detik dengan tangannya yang mungil
"Udah mi"
"Wah lagi dong"
Saya merajuk
"He eh"
lalu dia memijat saya lagi di bagian tangan. Saya hanya tersenyum kecil sambil menahan kepala yang terus berdenyut-denyut.
"Ummi sakit?" tanyanya
"Iya"
"Azzam obatin ya?"
"Azzam mau obatin ummi?"
'Iya"

Subahanallah....
Ada rasa haru mengalir di dada ini, tak terasa kedua mata saya mengalir cairan bening yang hangat. Saya peluk azzam. Saya cium kedua pipinya yang mulus itu.

Terima kasih nak....
Ummi bangga padamu...

posted by Maharani Arief at 6:03 AM 0 comments

KuciNg




Kucing adalah hewan favorit azzam dan ummi. Jika ada kucing yang sedang jomblo dan merana, maka radar azzam akan segera menyala dan ga tanggung-tanggung dia akan memburunya.kalau sudah tertangkap, maka sang kucing akan ketakutan dengan polah azzam. Gimana ga takut, buntutnya bakal di tarik, di pukul, dll (maklum motoriknya masih kasar).Tapi, dasar kucing, walau digituin sama azzam, tetap aja ngedekitin ummi (soalnya ummi gitu loh), karena ummi memang ratu kucing.

Kucing jalanan aja kalau ada ummi pasti akan mendekat, kecuali kucing baru gede, mereka masih sensitif jadi suka malu-malu kucing kalau ummi ngedeketin mereka.Kucing itu hewan yang kadang menyenangkan kalau menyenangkan. Bisa dimanja, dibelai dan hangat kalau lagi dingin. Tapi suka pup sembarangan (bagi yang tidak terlatih), dan mencakar-cakar apapun untuk menunjukkan daerah kekuasaannya. Dan itu adalah bagian yang tidak menyenangkan. Kucing kalau mau kawin, ribuuutnya minta ampun. Apalagi kalau upacaranya malam hari. Aduh bikin susah tidur. Alhasil siap-siap ambil seember air buat ngademin mereka.
Bagaimanapun mereka. Tetep aja azzam suka dan menjadi agresif kalau sudah ada kucing melenggang di depan mata azzam.

mmmmeeeeoooong
posted by Maharani Arief at 5:18 AM 0 comments

Friday, February 03, 2006

Duh Kanjeng Rasul...

Duh kanjeng Rasul...Betapa robek hati ini ketika dirimu dihinakan sedemikian rupa di koran kaum kuffar

Duh kanjeng Rasul...Lebih robek lagi karena pemerintahku ndak tegas memboikot produknya orang denmark dan prancis.

Duh Kanjeng Rasul...Betapa sedih hati ini karena tak pantas kau yang bagaikan Qur'an berjalan digambarkan seorang yang bar-bar dan doyan wanita.

Duh Kanjeng Rasul...Betapa malu diri ini, karena sebatas ini aku membelamu...

Saudaraku, ada suatu kisah...
Pada jaman rasulullah semasa hayatnya, beliau selalu memperhatikan kaum papa, anak yatim, dan kaum lemah. Begitu juga seorang pengemis tua buta di ujung jalan. Setiap pagi beliau selalu memberinya makan. Sebelum memberinya makan, beliau melembutkankan makanannya agar si pengemis tua buta itu bisa makan dengan mudah. Lalu dengan penuh kesabaran beliau menyuapinya dan sambil membelai mesra dan penuh kasih pada pengemis itu.

Pengemis tua itu sangat membenci rasulullah, dia selalu berkata bahwa rasulullah adalah tukang sihir, pemisah ikatan keluraga dengan ajaran yang dibawanya. Dia selalu berteriak-teriak mencaci rasulullah. Hal itu dikatakan pula kepada rasulullah setiap kali rasulullah menyuapinya makan. Pengemis tua itu tidak tahu bahwa yang dihadapannya adalah rasulullah. Tapi rasulullah tetap bersabar dan tidak pernah berhenti memberinya makan dengan perlakuan yang sebaik-baiknya.

Hingga ketika rasulullah wafat, Abu Bakar ra, bertanya kepada putrinya Aisyah ra, amalan yang mana yang rasulullah kerjakan dan Abu Bakar belum mengerjakannya. Lalu Aisyah ra menjawab, bahwa ayahnya belum memberi makan pengemis tua buta di ujung jalan itu.

Maka dengan tanpa ditunda lagi, Abu Bakar ra segera memberi makan pengemis itu. Tapi pengemis itu merasakan perbedaan dalam cara memberi makan. Maka pengemis itu bertanya pada Abu bakar ra, siapakah engkau, kemanakah orang yang biasa memberiku makan? Orang yang biasa memberiku makan selalu melembutkan makanannya, dan menyuapi sambil membelaiku dengan penuh kasih sayang.

Dan Abu bakar pun menangis..."Duuuh rasulullah, mengapa kau tinggalkan kami secepat ini.." Dengan keheranan pengemis itu kembali bertanya, siapakah engkau dan kemanakah orang yang biasa memberiku makan?Lalu dengan terisak Abu Bakar ra menjawab, bahwa dia adalah Abu Bakar dan yang biasa memeberinya makan adalah Rasulullah, Muhammad saw dan lanjutnya, kini rasulullah telah tiada.

Pengemis itupun terkejut, bahwa selama ini orang yang dia caci adalah orang yang selalu memberinya makan dengan perlakuan yang teramat baik.... Dan tanpa menunggu lama dia meminta kepada Abu bakar agar diajarkan syahadat, karena dia ingin memeluk agama Islam, agama yang diajarkan oleh orang yang telah memperlakukannya dengan baik itu...Subhanallah....

Maka apakah pantas, manusia semulia ini dihinakan?..
Maka apakah pantas, kita diam ketika Rasul kita dihinakan?

Duh kanjeng Rasul ... semakin robek hati ini...
Duh kanjeng Rasul ... aku rindu...
Duh kanjeng Rasul ... aku ingin berjumpa denganmu..

posted by Maharani Arief at 6:17 AM 0 comments

GRRR

Sore hari pulang kerja, naik angkot 09 yang membawaku ke halte angkot Ciawi. Di dalam angkot sebagian besar adalah anak-anak SMU, yang perbandingan populasinya adalah 50:50 anak laki-laki dan anak perempuan. Salah satu dari mereka mengometariku ketika aku melilih duduk di pinggir dekat temannya. Aku hanya melirik sebentar. Kemudian anak itu terdiam, Merasa bahwa aku mendengar komentarnya. Lalu pandanganku tertuju pada pada temannya yang lain yang sedang asyik mojok. Tentulah mereka sepasang anak SMU yang sedang asyik kemasyuk dengan cinta. Risih melihat adegan mesra mereka. Memang saat itu hujan, dengan suasana kota bogor yang dingin (karena hujan terus-terusan turun sejak kemarin) pas lah bagi mereka untuk saling berdekatan, tapi tak pantas di depan mataku.

Lalu aku menyentuh ujung tangan anak perempuan yang tengah bermesraan itu dengan ujung payungku. Dengan tegas dan tanpa basa-basi aku sampaikan bahwa aku sangat risih dengan adegan mereka. Dan ku minta agar mereka berjauhan duduknya. Dengan wajah malu mereka mulai menjauh.

Hhhrrgggh. Rasanya ingin marah, sudah sekian kalinya aku melihat adegan ini bahkan lebih dari itu. Maaf, ada yang memegang payudara si perempuannya tanpa rasa malu di depanku. Dan perempuannya sangat senang dan menikmati. Hueek.

Aku jadi teringat eva, kalau ada aku ingin cerita bahwa aku sangat MARAH, MARAH SEKALI. Aku jadi bertanya-tanya, bagaimana sih orang tua mereka mendidik mereka? Bagaimana sih pengasawan masyarakat terhadap masalah seperti ini? Bagaimana sih perhatian penguasa atas kasus-kasus seperti ini?


Aduh pak Jendral, tahu gak sih kalau tanggung jawab anda tuh sangat berat sekali di hadapan Allah. Janganlah anda mengira Allah tidak menghisab segala amanah yang telah rakyat ini berikan kepadamu sebagai Pemimpin Negara BBM

Wuih kesel banget. Gimana nih pak nadian, mba jujuk, mas bambang, eva, and all my dearest friends????
posted by Maharani Arief at 6:16 AM 0 comments

CINtA

Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar tapi konstan dan rentan, sewaktu-waktu ia bisa bisa saja meletus memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya. Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam, dan terus-menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi.


Begitulah yang sering terjadi. Bagiamanapun sakitnya perlakuan yang diterima wanita itu dia akhirnya tetap menerima kembali laki-laki yang berulang kali menyakitinya, meninggalkannya tanpa nafkah sepeser pun, menikah lagi dengan wanita lain berkali-kali, dan kini ia kembali lagi pada wanita itu dengan tangan kosong, menumpang hidup padanya. Dan lagi-lagi wanita itu menerima kembali dengan terbuka laki-laki itu. Walau anak-anaknya sangat menyesalkan keputusan wanita itu, tapi dengan tegas dia mengatakan agar mereka menghormati laki-laki itu sebagai ayah kandung mereka.

Si wanita itu bekerja keras, demi membiayai hidup anak-anaknya dan suaminya. Kadang ingin menjerit dan menangis, ada rasa marah dan kecewa, tapi dia berusaha menjalani keputusannya dengan sportif dan mulai memaafkan laki-laki itu.

Itulah cinta seorang perempuan, yang terkadang tak pernah habis dimakan waktu. Bagaikan seperti kuku walau perlahan dan berkali-kali dipotong, tapi dia akan terus tumbuh. Bagi wanita ini banyak sejuta maaf, sejuta pengertian bagi laki-laki yang telah banyak menzaliminya. Dia hanya menyandarkan semua pada Tuhannya

Kini ia masih terus berjuang untuk bisa mengantarkan anak-anaknya pada kesuksesan. Walau tanpa dukungan seorang laki-laki yang seharusnya menjadi penyangga kehidupannya dan anak-anaknya, dia tetap tegar dan terus berjalan.


Dedicated for a woman i know her for her sorrow
posted by Maharani Arief at 6:12 AM 0 comments