..:: Ranie ::..
Friday, February 03, 2006
CINtA
Cinta laki-laki seumpama gunung. Ia besar tapi konstan dan rentan, sewaktu-waktu ia bisa bisa saja meletus memuntahkan lahar, menghanguskan apa saja yang ditemuinya. Cinta perempuan seumpama kuku. Ia hanya seujung jari, tapi tumbuh perlahan-lahan, diam-diam, dan terus-menerus bertambah. Jika dipotong, ia tumbuh dan tumbuh lagi.
Begitulah yang sering terjadi. Bagiamanapun sakitnya perlakuan yang diterima wanita itu dia akhirnya tetap menerima kembali laki-laki yang berulang kali menyakitinya, meninggalkannya tanpa nafkah sepeser pun, menikah lagi dengan wanita lain berkali-kali, dan kini ia kembali lagi pada wanita itu dengan tangan kosong, menumpang hidup padanya. Dan lagi-lagi wanita itu menerima kembali dengan terbuka laki-laki itu. Walau anak-anaknya sangat menyesalkan keputusan wanita itu, tapi dengan tegas dia mengatakan agar mereka menghormati laki-laki itu sebagai ayah kandung mereka.
Si wanita itu bekerja keras, demi membiayai hidup anak-anaknya dan suaminya. Kadang ingin menjerit dan menangis, ada rasa marah dan kecewa, tapi dia berusaha menjalani keputusannya dengan sportif dan mulai memaafkan laki-laki itu.
Itulah cinta seorang perempuan, yang terkadang tak pernah habis dimakan waktu. Bagaikan seperti kuku walau perlahan dan berkali-kali dipotong, tapi dia akan terus tumbuh. Bagi wanita ini banyak sejuta maaf, sejuta pengertian bagi laki-laki yang telah banyak menzaliminya. Dia hanya menyandarkan semua pada Tuhannya
Kini ia masih terus berjuang untuk bisa mengantarkan anak-anaknya pada kesuksesan. Walau tanpa dukungan seorang laki-laki yang seharusnya menjadi penyangga kehidupannya dan anak-anaknya, dia tetap tegar dan terus berjalan.
Dedicated for a woman i know her for her sorrow
Begitulah yang sering terjadi. Bagiamanapun sakitnya perlakuan yang diterima wanita itu dia akhirnya tetap menerima kembali laki-laki yang berulang kali menyakitinya, meninggalkannya tanpa nafkah sepeser pun, menikah lagi dengan wanita lain berkali-kali, dan kini ia kembali lagi pada wanita itu dengan tangan kosong, menumpang hidup padanya. Dan lagi-lagi wanita itu menerima kembali dengan terbuka laki-laki itu. Walau anak-anaknya sangat menyesalkan keputusan wanita itu, tapi dengan tegas dia mengatakan agar mereka menghormati laki-laki itu sebagai ayah kandung mereka.
Si wanita itu bekerja keras, demi membiayai hidup anak-anaknya dan suaminya. Kadang ingin menjerit dan menangis, ada rasa marah dan kecewa, tapi dia berusaha menjalani keputusannya dengan sportif dan mulai memaafkan laki-laki itu.
Itulah cinta seorang perempuan, yang terkadang tak pernah habis dimakan waktu. Bagaikan seperti kuku walau perlahan dan berkali-kali dipotong, tapi dia akan terus tumbuh. Bagi wanita ini banyak sejuta maaf, sejuta pengertian bagi laki-laki yang telah banyak menzaliminya. Dia hanya menyandarkan semua pada Tuhannya
Kini ia masih terus berjuang untuk bisa mengantarkan anak-anaknya pada kesuksesan. Walau tanpa dukungan seorang laki-laki yang seharusnya menjadi penyangga kehidupannya dan anak-anaknya, dia tetap tegar dan terus berjalan.
Dedicated for a woman i know her for her sorrow
posted by Maharani Arief at 6:12 AM

0 Comments:
Post a Comment
<< Home