..:: Ranie ::..
Friday, February 03, 2006
Duh Kanjeng Rasul...
Duh kanjeng Rasul...Betapa robek hati ini ketika dirimu dihinakan sedemikian rupa di koran kaum kuffar
Duh kanjeng Rasul...Lebih robek lagi karena pemerintahku ndak tegas memboikot produknya orang denmark dan prancis.
Duh Kanjeng Rasul...Betapa sedih hati ini karena tak pantas kau yang bagaikan Qur'an berjalan digambarkan seorang yang bar-bar dan doyan wanita.
Duh Kanjeng Rasul...Betapa malu diri ini, karena sebatas ini aku membelamu...
Saudaraku, ada suatu kisah...
Pada jaman rasulullah semasa hayatnya, beliau selalu memperhatikan kaum papa, anak yatim, dan kaum lemah. Begitu juga seorang pengemis tua buta di ujung jalan. Setiap pagi beliau selalu memberinya makan. Sebelum memberinya makan, beliau melembutkankan makanannya agar si pengemis tua buta itu bisa makan dengan mudah. Lalu dengan penuh kesabaran beliau menyuapinya dan sambil membelai mesra dan penuh kasih pada pengemis itu.
Pengemis tua itu sangat membenci rasulullah, dia selalu berkata bahwa rasulullah adalah tukang sihir, pemisah ikatan keluraga dengan ajaran yang dibawanya. Dia selalu berteriak-teriak mencaci rasulullah. Hal itu dikatakan pula kepada rasulullah setiap kali rasulullah menyuapinya makan. Pengemis tua itu tidak tahu bahwa yang dihadapannya adalah rasulullah. Tapi rasulullah tetap bersabar dan tidak pernah berhenti memberinya makan dengan perlakuan yang sebaik-baiknya.
Hingga ketika rasulullah wafat, Abu Bakar ra, bertanya kepada putrinya Aisyah ra, amalan yang mana yang rasulullah kerjakan dan Abu Bakar belum mengerjakannya. Lalu Aisyah ra menjawab, bahwa ayahnya belum memberi makan pengemis tua buta di ujung jalan itu.
Maka dengan tanpa ditunda lagi, Abu Bakar ra segera memberi makan pengemis itu. Tapi pengemis itu merasakan perbedaan dalam cara memberi makan. Maka pengemis itu bertanya pada Abu bakar ra, siapakah engkau, kemanakah orang yang biasa memberiku makan? Orang yang biasa memberiku makan selalu melembutkan makanannya, dan menyuapi sambil membelaiku dengan penuh kasih sayang.
Dan Abu bakar pun menangis..."Duuuh rasulullah, mengapa kau tinggalkan kami secepat ini.." Dengan keheranan pengemis itu kembali bertanya, siapakah engkau dan kemanakah orang yang biasa memberiku makan?Lalu dengan terisak Abu Bakar ra menjawab, bahwa dia adalah Abu Bakar dan yang biasa memeberinya makan adalah Rasulullah, Muhammad saw dan lanjutnya, kini rasulullah telah tiada.
Pengemis itupun terkejut, bahwa selama ini orang yang dia caci adalah orang yang selalu memberinya makan dengan perlakuan yang teramat baik.... Dan tanpa menunggu lama dia meminta kepada Abu bakar agar diajarkan syahadat, karena dia ingin memeluk agama Islam, agama yang diajarkan oleh orang yang telah memperlakukannya dengan baik itu...Subhanallah....
Maka apakah pantas, manusia semulia ini dihinakan?..
Maka apakah pantas, kita diam ketika Rasul kita dihinakan?
Duh kanjeng Rasul ... semakin robek hati ini...
Duh kanjeng Rasul ... aku rindu...
Duh kanjeng Rasul ... aku ingin berjumpa denganmu..
Duh kanjeng Rasul...Lebih robek lagi karena pemerintahku ndak tegas memboikot produknya orang denmark dan prancis.
Duh Kanjeng Rasul...Betapa sedih hati ini karena tak pantas kau yang bagaikan Qur'an berjalan digambarkan seorang yang bar-bar dan doyan wanita.
Duh Kanjeng Rasul...Betapa malu diri ini, karena sebatas ini aku membelamu...
Saudaraku, ada suatu kisah...
Pada jaman rasulullah semasa hayatnya, beliau selalu memperhatikan kaum papa, anak yatim, dan kaum lemah. Begitu juga seorang pengemis tua buta di ujung jalan. Setiap pagi beliau selalu memberinya makan. Sebelum memberinya makan, beliau melembutkankan makanannya agar si pengemis tua buta itu bisa makan dengan mudah. Lalu dengan penuh kesabaran beliau menyuapinya dan sambil membelai mesra dan penuh kasih pada pengemis itu.
Pengemis tua itu sangat membenci rasulullah, dia selalu berkata bahwa rasulullah adalah tukang sihir, pemisah ikatan keluraga dengan ajaran yang dibawanya. Dia selalu berteriak-teriak mencaci rasulullah. Hal itu dikatakan pula kepada rasulullah setiap kali rasulullah menyuapinya makan. Pengemis tua itu tidak tahu bahwa yang dihadapannya adalah rasulullah. Tapi rasulullah tetap bersabar dan tidak pernah berhenti memberinya makan dengan perlakuan yang sebaik-baiknya.
Hingga ketika rasulullah wafat, Abu Bakar ra, bertanya kepada putrinya Aisyah ra, amalan yang mana yang rasulullah kerjakan dan Abu Bakar belum mengerjakannya. Lalu Aisyah ra menjawab, bahwa ayahnya belum memberi makan pengemis tua buta di ujung jalan itu.
Maka dengan tanpa ditunda lagi, Abu Bakar ra segera memberi makan pengemis itu. Tapi pengemis itu merasakan perbedaan dalam cara memberi makan. Maka pengemis itu bertanya pada Abu bakar ra, siapakah engkau, kemanakah orang yang biasa memberiku makan? Orang yang biasa memberiku makan selalu melembutkan makanannya, dan menyuapi sambil membelaiku dengan penuh kasih sayang.
Dan Abu bakar pun menangis..."Duuuh rasulullah, mengapa kau tinggalkan kami secepat ini.." Dengan keheranan pengemis itu kembali bertanya, siapakah engkau dan kemanakah orang yang biasa memberiku makan?Lalu dengan terisak Abu Bakar ra menjawab, bahwa dia adalah Abu Bakar dan yang biasa memeberinya makan adalah Rasulullah, Muhammad saw dan lanjutnya, kini rasulullah telah tiada.
Pengemis itupun terkejut, bahwa selama ini orang yang dia caci adalah orang yang selalu memberinya makan dengan perlakuan yang teramat baik.... Dan tanpa menunggu lama dia meminta kepada Abu bakar agar diajarkan syahadat, karena dia ingin memeluk agama Islam, agama yang diajarkan oleh orang yang telah memperlakukannya dengan baik itu...Subhanallah....
Maka apakah pantas, manusia semulia ini dihinakan?..
Maka apakah pantas, kita diam ketika Rasul kita dihinakan?
Duh kanjeng Rasul ... semakin robek hati ini...
Duh kanjeng Rasul ... aku rindu...
Duh kanjeng Rasul ... aku ingin berjumpa denganmu..
posted by Maharani Arief at 6:17 AM

0 Comments:
Post a Comment
<< Home