..:: Ranie ::..
Thursday, June 15, 2006
KETIKA BUNDA MENJADI MESIN PEMBUNUH
Bandung, 12 Mei 2006, digegerkan oleh peristiwa pembunuhan 3 orang anak yang dilakukan oleh Ibu kandungnya sendiri. Ibu itu membunuh ketiga anak-anaknya dengan cara membekapnya sampai kehabisan nafas. Ibu itu bukanlah orang yang bodoh juga tidak taat beragam, pun bukan dari latar belakang keluarga yang kacau. Ibu itu seorang aktivis di Salman ITB (Insitut Teknologi Bandung), pun dia adalah seorang yang cerdas dan alumnus dari perguruan tinggi favorit itu.
Bagaimana dengan suaminya, dia adalah alumnus ITB juga yang sekaligus Kepala Lembaga Wakaf dan Zakat Salman ITB. Tentulah bukan seorang yang tidak tahu dalam urusan agamanya.
Tragis, mengenaskan, meyedihkan, mengerikan. Itu yang terbersit dalam pikiran saya. Saya tak habis pikir atas peristiwa ini. Karena factor ekonomikah? Tidak, sang suami menyangkal di antara isak tangisnya ketika wartawan menanyakan sebab mengapa sang istri tega melakukan hal itu.
Teman saya di Jombang, mengirim pesan pada saya mungkin karena suami yang terlalu sibuk di Salman. Entah, belum jelas. Mungkin saja.
Peristiwa seorang ibu tega membunuh anak kandungnya sendiri bukanlah hal yang baru lagi di jaman ini, tapi dilakukan dengan profil orang seperti itu tentunya sangat mengejutkan kita. Berbeda dengan yang sering saya lihat dalam tayangan Buser, Sergap, dan kawan-kawannya, seorang Ibu yang melakukan perbuatan dosa tersebut, adalah sosok yang bukan lulus dari perguruan tinggi, bukan pula seorang aktivis, dan suaminya bukan pula seorang yang menangani urusan umat.
Saya hanya bisa menangis, jaman ini telah kehilangan kebaikan, kemaksiatan bukan lagi hal yang aneh, kezaliman adalah bagian dari keseharian, dosa bukan lagi momok bagi setiap manusia.
Alhamdulillah, Allah masih melindungi saya, di tengah derita yang saya tanggung dalam kehidupan ini, saya masih bisa mengerem untuk tidak melakukan dosa, terhadap siapapun.
Ah, bagaimana jika Bunda telah menjadi mesin pembunuh bagi anak yang dilahirkan melalui rahimnya? Inikah akhir dunia?
Bogor, 15 Juni 2006
Maafin ummi kalau marah-marah sama Azzam ya
Bagaimana dengan suaminya, dia adalah alumnus ITB juga yang sekaligus Kepala Lembaga Wakaf dan Zakat Salman ITB. Tentulah bukan seorang yang tidak tahu dalam urusan agamanya.
Tragis, mengenaskan, meyedihkan, mengerikan. Itu yang terbersit dalam pikiran saya. Saya tak habis pikir atas peristiwa ini. Karena factor ekonomikah? Tidak, sang suami menyangkal di antara isak tangisnya ketika wartawan menanyakan sebab mengapa sang istri tega melakukan hal itu.
Teman saya di Jombang, mengirim pesan pada saya mungkin karena suami yang terlalu sibuk di Salman. Entah, belum jelas. Mungkin saja.
Peristiwa seorang ibu tega membunuh anak kandungnya sendiri bukanlah hal yang baru lagi di jaman ini, tapi dilakukan dengan profil orang seperti itu tentunya sangat mengejutkan kita. Berbeda dengan yang sering saya lihat dalam tayangan Buser, Sergap, dan kawan-kawannya, seorang Ibu yang melakukan perbuatan dosa tersebut, adalah sosok yang bukan lulus dari perguruan tinggi, bukan pula seorang aktivis, dan suaminya bukan pula seorang yang menangani urusan umat.
Saya hanya bisa menangis, jaman ini telah kehilangan kebaikan, kemaksiatan bukan lagi hal yang aneh, kezaliman adalah bagian dari keseharian, dosa bukan lagi momok bagi setiap manusia.
Alhamdulillah, Allah masih melindungi saya, di tengah derita yang saya tanggung dalam kehidupan ini, saya masih bisa mengerem untuk tidak melakukan dosa, terhadap siapapun.
Ah, bagaimana jika Bunda telah menjadi mesin pembunuh bagi anak yang dilahirkan melalui rahimnya? Inikah akhir dunia?
Bogor, 15 Juni 2006
Maafin ummi kalau marah-marah sama Azzam ya
posted by Maharani Arief at 9:01 PM

0 Comments:
Post a Comment
<< Home