..:: Ranie ::..

Friday, June 02, 2006

POLIGAMI (bagian 1)

“Assalamu’alaikum, bisa bicara dengan mba duni?”
“Ya saya sendiri, ini dengan siapa saya bicara?”
“Eh mba apa kabar? Saya ibu Ayu.”
“Oh ibu, apa kabar juga? Alhamdulillah, baik, Ada apa bu?”
“Begini mba, bapak kan sedang sakit ya, dan sudah satu bulan ini tidak pulang ke rumah. Saya ingin menjenguknya tapi dilarang oleh anak-anak bapak dari istri pertamanya. Sebenarnya kalau ceu Uli sudah mengijinkan saya untuk menjenguk, tetapi kalau kesana saya tidak mungkin mudah begitu saja. Saya khawatir malah tambah masalah. Saya ingin minta tolong agar mba bias menelpon bapak dan meminta bapak untuk menelpon saya. Saya sudah lama tidak mendengar kabar bapak. Tolong ya mba?”.
“Insya Allah”.
“Terima kasih mba, Assalanu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”.

Pembicaraan pun terhenti. Dan aku mulai teralihkan lagi dengan kesibukan pekerjaanku. Hari itu ada dua rapat yang harus kuhadiri. Dan aku pun terlupa akan janjiku untuk menelpon suaminya sampai aku pulang kerja.

Keesokan harinya, mendekati makan siang, telpon berdering lagi dan untuk kali kedua dia menelponku untuk meminta bantuanku agar dia bia berkomunikasi dengan suaminya.

Ada rasa ragu, karena sungkan untuk menelpon suami yang keberulan adalah atasan saya sendiri. Walau antara saya dan atasan boleh dibilang cukup dekat, tapi perihal urusan keluarga saya cukup tak berani untuk mencampurinya. Hanya bisa menjadi pendengar bagi setiap permsalahan yang ada di si bapak ini. Tapi karena rasa kasihan yang memaksa saya untuk menelpon si bapak itu. Setelah menanyakan kabarnya, lalu kami berdiskusi tentang seputar kerjaan. Dan di akhir pembicaraan, dengan suara yang dipelankan saya menyampaikan permintaan istri keduanya agar beliau bias menghubungi istrinya itu. Setelah beliau mengiyakan, pembicaraan terputus setelah kami saling mengucapkan salam.

Seperti biasa saya berjibaku dengan computer abu millennium saya sampai jam kerja usai dan saya pulang seperti biasanya. Pada malam harinya sekitar jam 20.30 malam, hp saya berdering, lalu saya angkat dan ternyata yang berbicara di ujung telpon itu adalah putri bapak atasan saya itu. Pada intinya dia meminta saya agar berempati pada keluarganya dan tidak menggubris permintaan istri keduanya itu. Dengan seabreg cerita dia memaparkan fakta masalah yang terjadi dalam rumah tangga orang tuanya yang bersifat poligami itu. Ada beberapa dari ungkapannya yang saya tidak bisa menerimanya, yaitu paradigma tentang istri kedua. Dari apa yang disampaikannya saya merasa istri kedua seperti sesuatu yang menakutkan melebihi monster. Aib yang tidak terkira. Sebuah kesalahan dan seluruh anggapan negatif tentangnya.

Setelah putrinya itu menumpahkan semua unek-uneknya, saya hanya berpesan padanya agar permasalahan rumah tangga bapaknya itu bisa diselesaikan dengan baik dan semua tidak ada yang tersakiti lagi.

Poligami. Apakah itu? Apakah itu sebuah virus yang mematikan wanita sehingga untuk mendengarkan kata poligami ini para wanita di jagat ini seperti kebakaran jenggot?
Poligami atau bahasa arabnya ta’adud yang secara harfiah adalah menambah. Secara makna syar’iyah adalah menambah istri 2 sampai 4. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS An Nisaa’ : 3, “Dan jika kamu taku tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat belaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Disini jelas bahwa Allah memubahkan/membolehkan poligami pada kaum pria, dengan catatan untuk berbuat adil pada setiap istrinya. Dan adil disini adalah sesuai dengan kebutuhan rumah tangga setiap istri-istrinya.

Dan bagaimana jika tidak berbuat adil, dalam sebuah hadis dikatakan, bahwa seorang suami yang berpoligami jika dia tidak berbuat adil, maka dia akan menghadap Allah dengan bahu yang miring. Belum lagi ditambahkan dengan siksa atas dosa-dosa kezalimannya kepada istri-istrinya.

Entah, bagaimana bisa mencari jawaban yang pasti bagi kaum hawa tentang masalah poligami ini. Yang pasti hanya keimanan dan ketakwaan kepada Allah saja yang bisa menjawab permasalahan ini.

(bersambung)



posted by Maharani Arief at 12:51 PM

0 Comments:

Post a Comment

<< Home