..:: Ranie ::..

Thursday, June 15, 2006

Maafkan Aku, Sahabat

Sahabat, aku tahu kau sangat kecewa, sedih dan heran mengapa aku berkeras menghindarimu. Sesalmu membatalkan pertemuan yang kita janjikan.

Sahabat, kau tentu mengira aku kecewa dengan keputusanmu untuk bahagia, karena itu aku pergi lari dari kehidupanmu. Bukan, bukan itu sahabat. Aku hanya tak ingin ada luka nantinya jika aku masih singgah dalam kehidupanmu. Aku malah sangat berbahagia dengan jalan yang kau tempuh. Insya Allah ikhlas.

Aku berdoa agar bahagia yang akan kau raih nanti bukan sesaat, tapi selamanya, karena ada 3 buah cinta yang menantimu dan belahan jiwamu untuk kalian berikan cinta.

Aku mohon hargai keputusanku sebagai tanda sayangku padamu karena Allah.
Dan aku akan berterima kasih jika kau mau membiarkanku menempuh jalan yang telah ku pilih ini.

Semoga Allah besertamu..



For wong Jombang
posted by Maharani Arief at 9:20 PM 0 comments

Pelangi Ciptaan Allah


Golden Age, yang sekarang Azzam jalani banyak hal menarik yang bisa aku tuangkan ke dalam tulisan, dan aku bagi dengan sahabat-sahabat mayaku. Salah satu hal yang menarik itu adalah ketika aku pergi ke Bandung bersama Azzam untuk menemui seseorang. Waktu itu kami berangkat setelah ba’da dzhuhur. Kami menaiki bis AC jurusan BogorBandung. Saya duduk di kursi ke tiga. Dan di kursi ke dua di depan saya, ada dua anak kakak beradik, salah satunya sebaya Azzam dan satunya usia delapan tahunan.

Seperti biasa Azzam yang super ramah ini, memasang aksi untuk bisa berkomunikasi dengan bocah sebayanya yang dipanggil ayang oleh mamanya. Dengan bahasa – bahasa yang tidak jelas mereka bersahutan dan akhirnya terciptalah komunikasi antara mereka. Dan bis yang tadinya sepi menjadi ramai oleh ulah mereka bertiga.

Begitulah seterusnya sampai bis yang kami naiki berhenti di Cianjur untuk istirahat. Setelah 15 menit lebih kami meneruskan perjalanan kembali menuju kota Bandung. Dan dalam perjalanan dari cianjur menuju bandung ini, Azzam, dan kakak beradik ini bernyanyi macam-macam. Tik tik bunyi hujan, bintang kecil dan sampai pada lagi pelangi-pelangi. Ketika mereka menyanyikan lagu pelangi-pelangi ada hal lucu dan membuatku terharu juga bangga terhadap Azzam. Sampai akhir lagu itu, dua kakak beradik itu meyanyikan syair aslinya yaitu pelangi – pelangi ciptaan Tuhan, dan Azzam menyanyikan akhir lagu itu yang sudah di rubah, yaitu pelangi – pelangi ciptaan Allah. Dua kakak beradik itu memprotes Azzam karena syairnya tidak sesuai dengan yang mereka nyanyikan, begitupula Azzam tidak mau kalah. Akhirnya Azzam berkata “Pelangi ciptaan Allah tahu, Aneh”..

Kontan semua penumpang tertawa atas kekesalan Azzam. Aku pun tersenyum melihat tingkahnya. Aku juga bangga karena Azzam hanya mengenal Allah yang menciptakan pelangi. Memang aku membiasakan Azzam untuk mengenal kata Allah, dan menjelaskannya secara perlahan siapakah Allah itu. Aku beryukur, Azzam terbiasa menyebut nama Allah. Semoga nama Allah tidak hanya dalam mulutmu saja yang mungil itu, tapi dia juga akan selalu hadir dalam hati, pikir, dan perasaanmu serta kehidupanmu.

Iya Azzam, Pelangi itu ciptaan Allah…

posted by Maharani Arief at 9:13 PM 0 comments

“ Ibu mau kemana?”
“ Ibu turunnya dimana?”
“ Ibu rumahnya dimana?”
“ Dadah ibu, hati-hati ya”

Kalimat – kalimat yang sederhana, bahkan terkesan agresif selalu dilontarkan seorang bocah umur tiga tahun setengah bulan juni ini. Tidak jemu dia menyapa setiap orang yang menarik minatnya di angkot ketika dia bepergian keluar bersama umminya.

Dan kalimat sederhana yang muncul dari mulutnya yang mungil da pemikirannya yang polos itu sungguh menakjubkan. Darinya muncul kegemasan dari setiap orang yang disapanya. Ujung-ujungnya mereka menawarkan balita itu untuk singgah ke rumah mereka.

Balita itu bernama Muhammad Azzam Rafiudin, yang panggilan bekennya adalah Azzam. Begitulah keseharian Azzam. Sampai-sampai keramahan azzam ini membuat umminya bertambah koleksi teman dan no hp. Dan umminya pun ikut terkenal dengan sebutan ummi azzam, mama azzam.

Sekali lagi, saya belajar dari keramahan balita ini. Terkadang tuntutan kerja, tuntutan pencarian nafkah, segala macam tuntutan dalam hidup ini membuat setiap dari kita menjadi manusia-manusia yang kaku, lupa untuk saling bertegur sapa atau saling mengucapkan salam. Setiap saya menaiki angkot menuju kantor dan tempat pengasuh Azzam, maka banyak yang saya temukan wajah-wajah yang kusut, yang sarat beban, muka yang masam. Padahal Rasulullah bersabda bahwa yang terbaik dalam Islam salah satunya adalah memberi salam pada orang yang kita kenal dan tidak kita kenal. Tentunya dengan disertai muka yang manis dan penuh keramahan. Senyuman yang tulus. Seperti yang dilakukan Azzam di kesehariannya.

Azzam sayang… Ummi sangat bangga dengan kebiasaanmu ini, walau kadang ummi suka malu karena keramahanmu yang berlebih setiap melihat tante berkerudung yang cantik : D. Semoga saja ummi bisa juga sepertimu, tetap menjadi orang yang ramah dan meyebarkan salam di tengah penatnya kehidupan yang kita jalani ini.


Bogor, 15 Juni 2006.
posted by Maharani Arief at 9:11 PM 0 comments

KETIKA BUNDA MENJADI MESIN PEMBUNUH

Bandung, 12 Mei 2006, digegerkan oleh peristiwa pembunuhan 3 orang anak yang dilakukan oleh Ibu kandungnya sendiri. Ibu itu membunuh ketiga anak-anaknya dengan cara membekapnya sampai kehabisan nafas. Ibu itu bukanlah orang yang bodoh juga tidak taat beragam, pun bukan dari latar belakang keluarga yang kacau. Ibu itu seorang aktivis di Salman ITB (Insitut Teknologi Bandung), pun dia adalah seorang yang cerdas dan alumnus dari perguruan tinggi favorit itu.
Bagaimana dengan suaminya, dia adalah alumnus ITB juga yang sekaligus Kepala Lembaga Wakaf dan Zakat Salman ITB. Tentulah bukan seorang yang tidak tahu dalam urusan agamanya.

Tragis, mengenaskan, meyedihkan, mengerikan. Itu yang terbersit dalam pikiran saya. Saya tak habis pikir atas peristiwa ini. Karena factor ekonomikah? Tidak, sang suami menyangkal di antara isak tangisnya ketika wartawan menanyakan sebab mengapa sang istri tega melakukan hal itu.
Teman saya di Jombang, mengirim pesan pada saya mungkin karena suami yang terlalu sibuk di Salman. Entah, belum jelas. Mungkin saja.

Peristiwa seorang ibu tega membunuh anak kandungnya sendiri bukanlah hal yang baru lagi di jaman ini, tapi dilakukan dengan profil orang seperti itu tentunya sangat mengejutkan kita. Berbeda dengan yang sering saya lihat dalam tayangan Buser, Sergap, dan kawan-kawannya, seorang Ibu yang melakukan perbuatan dosa tersebut, adalah sosok yang bukan lulus dari perguruan tinggi, bukan pula seorang aktivis, dan suaminya bukan pula seorang yang menangani urusan umat.

Saya hanya bisa menangis, jaman ini telah kehilangan kebaikan, kemaksiatan bukan lagi hal yang aneh, kezaliman adalah bagian dari keseharian, dosa bukan lagi momok bagi setiap manusia.
Alhamdulillah, Allah masih melindungi saya, di tengah derita yang saya tanggung dalam kehidupan ini, saya masih bisa mengerem untuk tidak melakukan dosa, terhadap siapapun.

Ah, bagaimana jika Bunda telah menjadi mesin pembunuh bagi anak yang dilahirkan melalui rahimnya? Inikah akhir dunia?


Bogor, 15 Juni 2006
Maafin ummi kalau marah-marah sama Azzam ya
posted by Maharani Arief at 9:01 PM 0 comments

Friday, June 02, 2006

Ungkapan Sederhana Untuk Istri Tercinta

(Tulisan ini sudah dipostkan di hidayatullah, tapi ga apa-apa di post ulang di sini yaa..)

Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.

Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Disaat anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya. Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri anda pula yang harus mencucinya.

Disaat seperti itu, apakah yang anda pikirkan tentang dia? Masihkan anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara disaat yang sama anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, lulus dalam memilih setiap kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.

Sekali lagi, masihkan anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak anda membiarkan istri membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara suami tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tak sabar.

Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.

Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada anda.

Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan utuk mendengar, atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka kangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.

Jangankan istri anda yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam mengjadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.

Ketika menginginkan ibu anak-anak anda selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu anda berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu anda berikan agar hatinya tidak dingin,apalagi beku, dalam menghadapu anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang.

Ada ketulusan yang harus anda usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap mememilki energi untuk tersenyum kepada anak-anak anda, sepenat apapun ia.

Ada lagi yang lain : PENGAKUAN. Meski ia tak pernah menuntut, tetapi mestikah anda menunggu sampai mukanya berkerut-kerut.

Karenanya, anda kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu melewati tengah malam, pandanglah istri anda yang terbaring letih itu, lalu pikirkanlah sejenak, tak adakah yang bisa anda lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.

Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka,“ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan intuk itu?“

Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau anda terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang anda lakukan.

Anda tidak akan mendapati amal-amal anda saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin anda lakukan, terserah anda. Yang jelas, ada pengakuan untukknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan anda untuk menyatakan terima kasih, tak ada airmata duka yang menetes baginya, tak adal lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karema merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang anda berikan lepadanya, kelak istri anda akan berkata tentang anda sebagaimana Bunda ‘Aisyah RA berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW,”Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku”.

Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.

Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.

Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah anda ingat kembali ketika Rasulullah SAW berpesan tentang istri. “wahai manusia, sensungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah.”kata Rasulullah SAW melanjutkan.”kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan merreka dengan kitan Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku wasiatklan atas kalian intuk selalu berbuat baik.”

Anda telah mengambil istri anda sebagai amanah dari Allah. Kelak anda harus melaporkan kepada Allah Ta’ala bagaimana anda menunaikan amanah dari-Nya. Apakah anda mengabaikannya sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, anda sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri.

Semoga anda memberi ungkapan yang lebih agung untuk istri anda.
posted by Maharani Arief at 12:59 PM 0 comments

POLIGAMI (bagian 1)

“Assalamu’alaikum, bisa bicara dengan mba duni?”
“Ya saya sendiri, ini dengan siapa saya bicara?”
“Eh mba apa kabar? Saya ibu Ayu.”
“Oh ibu, apa kabar juga? Alhamdulillah, baik, Ada apa bu?”
“Begini mba, bapak kan sedang sakit ya, dan sudah satu bulan ini tidak pulang ke rumah. Saya ingin menjenguknya tapi dilarang oleh anak-anak bapak dari istri pertamanya. Sebenarnya kalau ceu Uli sudah mengijinkan saya untuk menjenguk, tetapi kalau kesana saya tidak mungkin mudah begitu saja. Saya khawatir malah tambah masalah. Saya ingin minta tolong agar mba bias menelpon bapak dan meminta bapak untuk menelpon saya. Saya sudah lama tidak mendengar kabar bapak. Tolong ya mba?”.
“Insya Allah”.
“Terima kasih mba, Assalanu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”.

Pembicaraan pun terhenti. Dan aku mulai teralihkan lagi dengan kesibukan pekerjaanku. Hari itu ada dua rapat yang harus kuhadiri. Dan aku pun terlupa akan janjiku untuk menelpon suaminya sampai aku pulang kerja.

Keesokan harinya, mendekati makan siang, telpon berdering lagi dan untuk kali kedua dia menelponku untuk meminta bantuanku agar dia bia berkomunikasi dengan suaminya.

Ada rasa ragu, karena sungkan untuk menelpon suami yang keberulan adalah atasan saya sendiri. Walau antara saya dan atasan boleh dibilang cukup dekat, tapi perihal urusan keluarga saya cukup tak berani untuk mencampurinya. Hanya bisa menjadi pendengar bagi setiap permsalahan yang ada di si bapak ini. Tapi karena rasa kasihan yang memaksa saya untuk menelpon si bapak itu. Setelah menanyakan kabarnya, lalu kami berdiskusi tentang seputar kerjaan. Dan di akhir pembicaraan, dengan suara yang dipelankan saya menyampaikan permintaan istri keduanya agar beliau bias menghubungi istrinya itu. Setelah beliau mengiyakan, pembicaraan terputus setelah kami saling mengucapkan salam.

Seperti biasa saya berjibaku dengan computer abu millennium saya sampai jam kerja usai dan saya pulang seperti biasanya. Pada malam harinya sekitar jam 20.30 malam, hp saya berdering, lalu saya angkat dan ternyata yang berbicara di ujung telpon itu adalah putri bapak atasan saya itu. Pada intinya dia meminta saya agar berempati pada keluarganya dan tidak menggubris permintaan istri keduanya itu. Dengan seabreg cerita dia memaparkan fakta masalah yang terjadi dalam rumah tangga orang tuanya yang bersifat poligami itu. Ada beberapa dari ungkapannya yang saya tidak bisa menerimanya, yaitu paradigma tentang istri kedua. Dari apa yang disampaikannya saya merasa istri kedua seperti sesuatu yang menakutkan melebihi monster. Aib yang tidak terkira. Sebuah kesalahan dan seluruh anggapan negatif tentangnya.

Setelah putrinya itu menumpahkan semua unek-uneknya, saya hanya berpesan padanya agar permasalahan rumah tangga bapaknya itu bisa diselesaikan dengan baik dan semua tidak ada yang tersakiti lagi.

Poligami. Apakah itu? Apakah itu sebuah virus yang mematikan wanita sehingga untuk mendengarkan kata poligami ini para wanita di jagat ini seperti kebakaran jenggot?
Poligami atau bahasa arabnya ta’adud yang secara harfiah adalah menambah. Secara makna syar’iyah adalah menambah istri 2 sampai 4. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam QS An Nisaa’ : 3, “Dan jika kamu taku tidak dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat belaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Disini jelas bahwa Allah memubahkan/membolehkan poligami pada kaum pria, dengan catatan untuk berbuat adil pada setiap istrinya. Dan adil disini adalah sesuai dengan kebutuhan rumah tangga setiap istri-istrinya.

Dan bagaimana jika tidak berbuat adil, dalam sebuah hadis dikatakan, bahwa seorang suami yang berpoligami jika dia tidak berbuat adil, maka dia akan menghadap Allah dengan bahu yang miring. Belum lagi ditambahkan dengan siksa atas dosa-dosa kezalimannya kepada istri-istrinya.

Entah, bagaimana bisa mencari jawaban yang pasti bagi kaum hawa tentang masalah poligami ini. Yang pasti hanya keimanan dan ketakwaan kepada Allah saja yang bisa menjawab permasalahan ini.

(bersambung)



posted by Maharani Arief at 12:51 PM 0 comments