..:: Ranie ::..
Friday, January 13, 2006
Anak....
Beberapa hari ini kita dikagetkan oleh pemberitaan tentang kekerasan terhadap anak yaitu kisah seorang ibu yang tega membakar kedua anaknya yang berusia yang masih kecil-kecil. Juga seorang ibu tiri yang tega mencekik anak tirinya, seorang ayah yang tega menyetrika anak kandungnya. Dan lain-lain lagi (hiii menyeramkan). Teringat kasus Arie Anggara belasan tahun lalu yang tewas mengenaskan oleh kedua orang tuanya.Dan belum lagi kasus-kasus kekerasan anak yang semakin hari ini semakin marak saja
Anak...sekali lagi anak...
Siapakah mereka?
Mereka adalah hasil dari buah cinta dua manusia, Amanah Allah, dst (wah panjang menjabarkannya)
Mengapa mereka rentan menjadi objek kekerasan domestik, yang pelakunya adalah orang-orang yang terdekat, yang seharusnya memberikan rasa cinta dan perlindungan kepada mereka.
Banyak yang berpendapat bahwa karena himpitan ekonomi, susahnya kehidupan menimbulkan kekerasan terhadap anak (KTA). Sikap para suami yang tidak ngemong juga merupakan faktor timbulnya KTA.
Kalau kita renungi secara seksama, ada masalah mendasar di atas semua penyebab terjadinya KTA, yaitu tidak terpecahkannya problematika umat. Lebih ideal lagi karena hukum yang mengatur perikehidupan manusia tidak mampu mengcover permasalahan-permasalahan yang ada.
Hukum apa yang dipakai manusia saat ini sehingga tidak mampu memecahkan permasalahan umat? Seperti yang kita ketahui bersama bahwa hukum yang ada saat ini adalah hukum buatan manusia yang banyak sekali kelemahan sehingga banyak menimbulkan permasalahan baru. Jadi sebaik apapun manusia membuat hukum akan sama saja hasilnya jika hukum itu tidak disandarkan pada hukum yang lebih hakiki. Maka sudah seharusnya kita mulai meninggalkan hukum buatan manusia dan beralih oada hukum yang hakiki, yaitu Hukum Allah.
Kembali pada anak, sebagai seorang ibu yang juga tidak lepas dari permasalahan kehidupan, sangat sedih melihat KTA saat ini. Jujur, terkadang amarah bisa memuncak ketika dihadapkan dengan seabgreg masalah dan pada saat yang sama harus menghadapi kerewelan anak. Saat itu ingin meluapkan amarah ini pada anak saya, dan terkadang saya cukup menyentilnya jika sudah di luar batas kendali. Tapi ketika pada saat dia tidur, terlihat wajah polosnya. Sungguh hati saya amat terluka dengan perbuatan saya kala itu. Hingga tak ayal air mata ini basah. Dan saat itu saya mencium pipi anak saya sambil berkata "maafkan ummi nak".
Tidak terbayangkan bagaimana perasaan saya, seandainya saya dalam posisi pelaku KTA yang sudah sangat berlebihan (membakar anak), bisa-bisa saya menjadi gila. Maka setiap pelaku KTA tentunya sudah tidak bisa lagi berpikir jernih.
Ini adalah tanggung jawab kita bersama, setiap dari kita, seluruh lapisan masyarakat. Kembali pada sang pemegang wewenang hukum bagaimana tanggung jawab anda sekalian yang duduk di kursi pemerintahan.
Well, saya hanya bisa menarik nafas yang berat ini ketika tanya ini ditujukan kepada pemerintahan kita yang mulia.
Anak...sekali lagi anak...
Siapakah mereka?
Mereka adalah hasil dari buah cinta dua manusia, Amanah Allah, dst (wah panjang menjabarkannya)
Mengapa mereka rentan menjadi objek kekerasan domestik, yang pelakunya adalah orang-orang yang terdekat, yang seharusnya memberikan rasa cinta dan perlindungan kepada mereka.
Banyak yang berpendapat bahwa karena himpitan ekonomi, susahnya kehidupan menimbulkan kekerasan terhadap anak (KTA). Sikap para suami yang tidak ngemong juga merupakan faktor timbulnya KTA.
Kalau kita renungi secara seksama, ada masalah mendasar di atas semua penyebab terjadinya KTA, yaitu tidak terpecahkannya problematika umat. Lebih ideal lagi karena hukum yang mengatur perikehidupan manusia tidak mampu mengcover permasalahan-permasalahan yang ada.
Hukum apa yang dipakai manusia saat ini sehingga tidak mampu memecahkan permasalahan umat? Seperti yang kita ketahui bersama bahwa hukum yang ada saat ini adalah hukum buatan manusia yang banyak sekali kelemahan sehingga banyak menimbulkan permasalahan baru. Jadi sebaik apapun manusia membuat hukum akan sama saja hasilnya jika hukum itu tidak disandarkan pada hukum yang lebih hakiki. Maka sudah seharusnya kita mulai meninggalkan hukum buatan manusia dan beralih oada hukum yang hakiki, yaitu Hukum Allah.
Kembali pada anak, sebagai seorang ibu yang juga tidak lepas dari permasalahan kehidupan, sangat sedih melihat KTA saat ini. Jujur, terkadang amarah bisa memuncak ketika dihadapkan dengan seabgreg masalah dan pada saat yang sama harus menghadapi kerewelan anak. Saat itu ingin meluapkan amarah ini pada anak saya, dan terkadang saya cukup menyentilnya jika sudah di luar batas kendali. Tapi ketika pada saat dia tidur, terlihat wajah polosnya. Sungguh hati saya amat terluka dengan perbuatan saya kala itu. Hingga tak ayal air mata ini basah. Dan saat itu saya mencium pipi anak saya sambil berkata "maafkan ummi nak".
Tidak terbayangkan bagaimana perasaan saya, seandainya saya dalam posisi pelaku KTA yang sudah sangat berlebihan (membakar anak), bisa-bisa saya menjadi gila. Maka setiap pelaku KTA tentunya sudah tidak bisa lagi berpikir jernih.
Ini adalah tanggung jawab kita bersama, setiap dari kita, seluruh lapisan masyarakat. Kembali pada sang pemegang wewenang hukum bagaimana tanggung jawab anda sekalian yang duduk di kursi pemerintahan.
Well, saya hanya bisa menarik nafas yang berat ini ketika tanya ini ditujukan kepada pemerintahan kita yang mulia.
posted by Maharani Arief at 5:28 AM

0 Comments:
Post a Comment
<< Home