..:: Ranie ::..
Wednesday, December 14, 2005
PerJuangaN Kita Masih Panjang
Pagi kemaren ketika hendak berangkat ke kantor, aku naik sebuah angkot 01 jurusan Ciawi-Baranang Siang. aku pilih angkot yang penumpangnya tidak merokok. Di bangku yang untuk berenam di pojok angkot tepat di sebelahku, ada pasangan ABG yang sedang berpegangan tangan dengan mesranya. Si perempuan adalah seorang siswi MAN dan si laki-lakinya seprang pemuda belia yang bekerja di bangunan daerah depok.
Risih sekali aku melihat pemandangan itu, dan yang lebih membuatku jengkel adalah siswi MAN yang berkerudung itu, dia melakukan perbuatan itu seolah tidak melihat pada kerudung yang di pakainya. Batinku berkecamuk dan berperang apakah aku harus menegur atau mendiamkannya seperti penumpang lain. Ternyata rasa ingin menegur lebih besar ketimbang kecuekan ku. Dengan mengucap bismillah, aku serahkan semuanya kepada Allah.
Teringat tausiyah dari Aa Gym di sebuah stasiun radio subuh tadi, bahwa jika kita hendak menegur sampaikanlah dengan sopan santun. Maka dengan bahasa yang sehalus mungkin dan setengah berbisik, aku bertanya pada mereka apakah mereka telah menikah. Dan dengan tersipu mereka menjawab kalau mereak belum menikah dan mereka sedang PACARAN. Masya Allah....
Lalu tanpa ba bi bu lagi, aku sampaikan keberatanku akan aksi mereka di dalam angkot itu (pagi-pagi pula gitu loh). Selain melanggar aturan Allah, kalau dalam etika mah ga etis bermesraan di depan umum, mengingat negara ini masih memegang budaya ketimuran (apa masih ya..???). Sekilas aku sampaikan mengenai tata cara pergaulan Islami. Bagaimana sanksi dan pahala dari Allah ketika kta melanggar atau menjalankan perintah-Nya. Dan syukurnya mereka tidak marah, malah banyak bertanya (T_T)
Kesimpulannya dalam dialog yang singkat itu, ternyata banyak sekali muslim yang belum paham bagaimana bergaul secara Islami. Terbukti dari keheranan mereka terhadap larangan pegangan tangan sebelum menikah dan bagi mereka pegangan tangan adalah hal yang lumrah walau belum menikah. Dan paham liberalis yang mengusung kebebasan serta individualistis menimbulkan sikap cuek ketika melihat kebatilan.
Sesampainya di kantor aku merenung sebentar, peristiwa tadi adalah sepersekian dari masalah-masalah tidak teraplikasikannya syariat Islam di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Dan fakta bahwa dakwah ternyata belum tersampaikan merata ke seluruh lapisan masyarakat. Ini adalah pekerjaan rumah yang harus segera di tuntaskan bagi aktivis dakwah dan semua yang terkait serta mempunyai peranan penting dalam kebangkitan Islam.
Maka amat disayangkan jika potensi dakwah yang dipunyai oleh setiap dari kita sebagai muslim terbuang demi sebuah perdebatan furu yang tidak berfaedah. Atau demi sebuah kebenaran nisbi atas nama ego sebuah harakah Islamiyah.
Ternyata perjuangan kita amsih panjang untuk kebangkitan Islam yang mulia ini.
Mari berbenah diri. Rapatkan barisan. Bersatulah di bawah panji asma-Nya. Semoga Allah mempertautkan hati-hati kita semua.
Risih sekali aku melihat pemandangan itu, dan yang lebih membuatku jengkel adalah siswi MAN yang berkerudung itu, dia melakukan perbuatan itu seolah tidak melihat pada kerudung yang di pakainya. Batinku berkecamuk dan berperang apakah aku harus menegur atau mendiamkannya seperti penumpang lain. Ternyata rasa ingin menegur lebih besar ketimbang kecuekan ku. Dengan mengucap bismillah, aku serahkan semuanya kepada Allah.
Teringat tausiyah dari Aa Gym di sebuah stasiun radio subuh tadi, bahwa jika kita hendak menegur sampaikanlah dengan sopan santun. Maka dengan bahasa yang sehalus mungkin dan setengah berbisik, aku bertanya pada mereka apakah mereka telah menikah. Dan dengan tersipu mereka menjawab kalau mereak belum menikah dan mereka sedang PACARAN. Masya Allah....
Lalu tanpa ba bi bu lagi, aku sampaikan keberatanku akan aksi mereka di dalam angkot itu (pagi-pagi pula gitu loh). Selain melanggar aturan Allah, kalau dalam etika mah ga etis bermesraan di depan umum, mengingat negara ini masih memegang budaya ketimuran (apa masih ya..???). Sekilas aku sampaikan mengenai tata cara pergaulan Islami. Bagaimana sanksi dan pahala dari Allah ketika kta melanggar atau menjalankan perintah-Nya. Dan syukurnya mereka tidak marah, malah banyak bertanya (T_T)
Kesimpulannya dalam dialog yang singkat itu, ternyata banyak sekali muslim yang belum paham bagaimana bergaul secara Islami. Terbukti dari keheranan mereka terhadap larangan pegangan tangan sebelum menikah dan bagi mereka pegangan tangan adalah hal yang lumrah walau belum menikah. Dan paham liberalis yang mengusung kebebasan serta individualistis menimbulkan sikap cuek ketika melihat kebatilan.
Sesampainya di kantor aku merenung sebentar, peristiwa tadi adalah sepersekian dari masalah-masalah tidak teraplikasikannya syariat Islam di negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Dan fakta bahwa dakwah ternyata belum tersampaikan merata ke seluruh lapisan masyarakat. Ini adalah pekerjaan rumah yang harus segera di tuntaskan bagi aktivis dakwah dan semua yang terkait serta mempunyai peranan penting dalam kebangkitan Islam.
Maka amat disayangkan jika potensi dakwah yang dipunyai oleh setiap dari kita sebagai muslim terbuang demi sebuah perdebatan furu yang tidak berfaedah. Atau demi sebuah kebenaran nisbi atas nama ego sebuah harakah Islamiyah.
Ternyata perjuangan kita amsih panjang untuk kebangkitan Islam yang mulia ini.
Mari berbenah diri. Rapatkan barisan. Bersatulah di bawah panji asma-Nya. Semoga Allah mempertautkan hati-hati kita semua.
posted by Maharani Arief at 2:59 AM

1 Comments:
dun, emang bs gitu milih2 angkot yang penumpangnya ga ngerokok...gimana nih tipsnya? mau dong
Post a Comment
<< Home